Fly..Fly..Dragonfly…


Dah lama juga ga lihat capung badak nih. Dulu sebelum tanah kosong didepan rumah ditembok pagar sih masih sering lihat ya, soalnya di situ banyak tumbuh semak dan pohon liar. Tapi sejak tanah itu berpindah tangan dan dibangun tembok bata di sekelilingnya, jadi ga ada lagi deh sedikit pemandangan indah yang bisa dilihat (dan pemandangan yang ga indah juga karena orang sering buang sampah juga ke tanah itu).

capung badak 06Tapi beberapa waktu lalu ternyata aku cukup beruntung ya bisa ngelihat lagi dan sempet juga motretnya. Lagi lihat-lihat tanaman di samping rumah sambil megang hape, eh tau-tau dia menclok (hinggap) di dahan dekatku, ya udah tak foto-fotoi aja.hehehe

Waktu aku kecil suka banget ya cari capung badak ini. Kalo sudah dapat kadang sayapnya dipotong separuh biar ga terbang tinggi. Atau kadang ekornya diikat dengan benang jahit dan diujung benang diikatkan secarik kertas kecil supaya capungnya ga bisa terbang jauh.

capung badak 03Dulu si waktu aku kecil, katanya supaya ga ngompol lagi, dipakelah capung badak ini sebagai obatnya. Caranya dengan mendekatkan tu capung ke puser supaya pusernya digigit sama tu capung. Katanya sih setelah itu ga akan ngompol lagi. Aku sih dah lupa apakah setelah puserku digigit capung, kebiasaan ngompolku terus hilang apa ga? Yang pasti si sekarang dah ga ngompol lagi ya.hehehe

Waktu kecil pernah juga sih pengen rasain gimana rasanya daging capung. Dengan teman-teman pergilah kami menangkap beberapa ekor capung, setelah itu dibakar dan dimakan…nyam…nyam… Kalo ditanya enak apa ga, waktu itu si rasanya enak-enak aja ya, maklum deh anak kecil.hehehe. capung badak 04Tapi kalo sekarang sih, daripada makan capung, mendingan makan sate ayam deh (la iyalah, masa ya iyadong, sate ayam 10 aja minta nambah, apalagi sepotong…ngomong apaan sih ini….)

        capung badak 05

Ada hal yang menarik tentang mata capung nih. Tanpa kemampuan untuk mendengar dan mencium, maka mata merupakan indera yang paling penting buat capung. Mata capung dipercaya merupakan mata kompon terbesar diantara mata jenis serangga lainnya, yang sangat memberikan keuntungan dalam berburu makanan. Capung dewasa mempunyai jangkauan pandangan hampir 360 derajat dengan kepala yang sangat fleksibel yang membuatnya mampu untuk melihat ke segala arah, kecuali ke belakang. Mata capung dapat terdiri dari 30.000 ommatidia, permukaan hexagonal yang mengumpulkan pandangan dari semua arah yang berbeda, untuk menciptakan suatu bayangan seperti mosaik.

capung badak 02

Tidak seperti manusia yang hanya memiliki 3 opsins, atau protein yang sensitif terhadap cahaya, yang masing-masing menyerap warna tertentu dari cahaya seperti merah, hijau dan biru, capung mempunyai sampai 5 opsins, yang membuatnya juga mampu melihat sinar ultraviolet disamping warna-warna lainya. Matanya juga dapat mendeteksi polarisasi cahaya dan melihat obyek yang bergerak cepat lebih jelas dari manusia. Meraka dapat melihat kerlip cahaya 80 kali per detik (2 kali dari kemampuan manusia), kemampuan yang membantunya mengidentifikasikan corak sayap yang bergerak cepat.

Ada bagian pada mata capung, fovea, yang dapat meminimalkan pandangan yang kabur saat capung terbang dengan kecepatan tinggi. Pada saat berburu disiang hari, matanya membuat capung dapat melihat langit lebih cerah daripada permukaan tanah yang membuatnya dengan mudah melihat mangsanya yang berada di atasnya.

Kutipan bebas dari artikel Did You Know? oleh Emily MacDowell, yang terdapat dalam NATIONAL GEOGRAPHIC Magazine

Foto-foto hasil jeprat jepret hape Sony Ericsson k800i.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s